Menyikapi Kritik

Kritik sering kali menjadi musuh besar kita. Berapa banyak dari kita
yang langsung bereaksi tidak sehat manakala kritik menerpa? Apa yang
terjadi saat kita mengkritik? Bagaimana menyikapi kritik?

LUKA YANG KITA BUAT

Bayangkanlah kita menikam dada orang yang kita cintai.
Saat bilah pisau itu terbenam ke dalam dadanya, ia tersedak mencoba
menghirup udara, ia mencoba meraup apa yang masih bisa digapainya.
Dengan liar, wajahnya menyemburkan teror dan ketakutan. Memancarkan
kesakitan yang teramat sangat pedih rasanya. Ia mulai kehilangan
darah, dan ia mulai mengalami shock yang parah. Ia pun terjatuh.
Sekarat dan bersimbah darah.

Mungkin ia masih beruntung, karena ada yang sempat mengantarnya ke
rumah sakit dengan ambulan. Tapi sekalipun ia akan sembuh dari
penderitaannya, dadanya tetap akan menyisakan goresan luka besar yang
tidak sedap untuk semua mata.

SENJATA ITU ADALAH KRITIK

Tak terbayangkan bahwa Anda akan mampu melakukannya. Dan jikapun Anda
tetap melakukannya, segera setelah Anda menyadari apa yang telah Anda
lakukan, yakinlah; Anda tidak akan pernah mengulanginya.

Begitulah, mungkin hampir setiap hari, banyak dari kita yang terus dan
lagi-lagi, menikam orang-orang yang kita cintai. Kita menggunakan
pisau yang tak terlihat, pisau yang tidak membuat darah muncrat.
Senjata itu adalah senjata pilihan. Dan pilihan itu adalah KRITIK.
Luka yang kita buat, sama  dalam dan pedih seperti luka oleh pisau
dari baja.

KRITIK ADALAH MESIN PENGHANCUR

Kritik yang kita lontarkan merontokkan rasa percaya diri. Orang yang
kita kritik merasa tak dicintai lagi. Mereka mulai masuk ke alam yang
penuh dengan keragu-raguan. Dan sebelum luka mereka sempat sembuh
kembali, Kita menikamnya lagi, dan lagi. Tepat di tempat yang sama.

KRITIK ITU MENIPU

Mengapakah kita bisa menjadi begitu sadis pada orang-orang yang kita
cintai? Kita telah tertipu, karena bilah yang di tangan dan luka yang
kita buat tak pernah terlihat nyata. Mengapakah kita bisa menjadi
begitu jahat dan dengki? Jawabnya, adalah karena rasa tak aman kita
sendiri.

BAYANGKAN BILAH PISAU ITU

Bagaimanakah kita bisa memperbaiki diri?
Saat kita mulai merasa melakukan pembantaian terhadap orang lain,
dengan kata-kata yang pedas dan sengit,
dengan ungkapan yang tajam bak bilah pedang,
dengan suara dan kata yang membakar jiwa serta semangat,

berhentilah sebentar, dan bayangkanlah senjata kita itu menjadi nyata.

Dan jika kita bisa melihat, luka seperti apa yang akan kita buat,
stop!

KRITIK DILAKUKAN DENGAN KATA

Kita sering tidak menyadarinya. Contoh: kata “tapi.”

“Lihatlah Ayah, Saya dapat nilai A untuk olah raga di raport Saya.”
Ayah menjawab, “Wow.. itu bagus sekali anakku, TAPI, kamu dapat C
untuk matematika.”

Kata “tapi” adalah tombol “cancel” atau tuts “esc” di pojok kiri atas
keyboard komputer kita. Kata itu membatalkan semua puja dan puji yang
telah kita lontarkan sebelumnya. Dan tidak lebih, pembicaraan di atas
telah berubah jadi begini.

“Lihatlah Ayah, Saya pintar di sekolah.”
“Tidak. Kamu goblok!”

HARGAI SEKECILPUN APA-APA

Bandingkan jika respon itu diubah lebih baik dengan menjadi begini.

“Wow.. itu bagus sekali anakku, nanti Ayah bilang sama Ibu betapa
pintarnya kamu. Pertahankan ya.”

Ia akan terinspirasi dan berupaya lebih keras untuk matematikanya,
karena ia ingin menangguk lebih banyak puji dan puja, dari orang-orang
yang dicintanya. Itu lebih baik ketimbang ia jadi merasa tak berguna
karena “tapi” dari mulut Ayah atau Ibunya.

JIKA ANDA DIKRITIK

1. Jadikan kritik sebagai sarana belajar. Yaitu, INGAT RASA LUKANYA,
dan berupayalah untuk tidak melakukannya pada orang lain;

2. Ingat bahwa PISAU YANG DIGUNAKAN TIDAK TERLIHAT, itulah sebab
mereka tak menyadari luka yang dibuatnya. Maafkan mereka;

3. INGAT LUKA MEREKA. Saat seseorang menjadi sengit, sadis, kasar atau
tidak bertenggang rasa, mereka tidak membenci Anda. Mereka mengalami
derita akibat sesuatu di dalam dirinya. Jika mereka mengumpat,
bukanlah Anda yang diumpat. Yang mereka tuju adalah sesuatu di dalam
diri mereka, yang tak pernah ditunjukkan atau diceritakan. Mungkin itu
orang lain yang telah kejam kepada mereka. Mungkin itu sesuatu yang
telah mempermalukan mereka;

4. SETIAP ORANG TIDAK SAMA. Itulah berkah Tuhan. Pahami mereka sebagai
manusia yang masing-masingnya tidak sama;

5. Setelah Anda menerima kritik, BERTERIMAKASIHLAH PADA MEREKA atas
nasehatnya. Berjanjilah untuk mempertimbangkan apa yang mereka
katakan. Dengan berterimakasih, Anda telah melucuti senjata mereka,
antagonismenya, dan mengakhiri bicara dengan damai dan melegakan;

6. LUPAKAN. Orang yang mengkritik Anda mungkin tidak kompeten, penuh
curiga, atau cemburu buta. Jika demikian, setelah berterimakasih
kepada mereka, lupakan semuanya;

7. EVALUASI KRITIK MEREKA. Mungkin mereka tidak objektif. Tapi mungkin
juga ada poin mereka yang memang benar. Gunakan pengalaman ini sebagai
kesempatan untuk tumbuh. Ingat, Anda tidak sempurna. Belajarlah dari
mereka kapan saja dan di mana saja. Tapi jangan, jadikan itu alasan
untuk mengkritik orang lain.

Bahaya kritik bukan pada kritiknya, tapi pada karakternya yang bisa
memunculkan siapa Anda sebenarnya.

Best regard for all….!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: