Episode Memperbaharui Cinta

Sudah pukul 19.00 malam. Saatnya aku berangkat untuk mengejar pesawat
ke Jakarta pukul 20.30. Traveling-bag sudah disiapkannya sejak pagi.

“Pergilah,” katanya memandang mataku. “Ini belum waktunya.
Kontraksinya bukan di fundus, tetapi di bagian bawah. Mungkin … sakit
biasa.”

Aku pun mengangguk berusaha yakin. Bagaimanapun ia seorang dokter.
Dan, ia pun sudah aku bekali dengan alamat, no telp, dan ancar-ancar
ke rumah bidan itu. Aku bahkan sudah meninggalkan pesan ke teman
sekantor, jika sewaktu-waktu saat itu tiba, ia siap membantu.

Keningnya segera kucium setelah tanganku diciumnya mesra. Dan tas itu
sudah kuangkat untuk kugelandang ke pintu depan. Tangannya menyuruhku
pergi, tetapi kutahu matanya tidak. Ia bahkan tidak beranjak dari
tempatnya karena sakit yang tak terperikan itu. Apakah ini sudah
waktunya? Tanya batinku mencari kepastian. Bukankah perkiraannya masih
9-10 hari lagi?

Kulihat kini mata itu basah.

Sedetik kemudian aku putuskan, “Kayaknya lebih baik aku tak jadi
pergi.” Begitulah kata-kataku meluncur dan tas kuletakkan kembali.

Ia terkesima. “Nggak papa, ta, Mas?” tanyanya, sembari mengusap sembab
matanya. “Aku nggak papa, kok. Kalaupun nanti ke bidan sendiri, aku
bisa.”

“Nggak. Aku bisa tunda acara di Jakarta besok.”

Ia memelukku dalam isak.

“Coba kita lihat sampai besok, ” bisikku. “Jika sakit itu mereda, aku
bisa ke Jakarta petangnya.”

Ia mengangguk. Aku segera memapahnya berbaring.

Kukontak teman seperjalanan. Dan kukatakan padanya keadaanku. Ia bisa
mengerti. Segera aku ke kantor yang hanya 5 menit dari rumah untuk
menitipkan data agar diserahkan ke anggota timku di Jakarta.

Belum selesai mengcopy ini-itu, sebuah SMS masuk ke mailbox HP-ku.
“Mas, jangan lama-lama, ya?” begitu isinya. Dari isteriku. Secepat
kilat kuserahkan data yang belum lengkap itu ke teman seperjalananku.
Aku segera balik ke rumah.

Ternyata benar. Tak menunggu menit berlalu, ia sudah mengeluarkan
tanda-tanda itu. Kontraksi di bawah perut yang semakin menguat
membuatnya nyaris tak kuat berdiri, bahkan beringsut. Sepercik cairan
merah atau coklat, aku tak tahu pasti, semakin menambah keyakinan
bahwa saatnya telah tiba. Maju dari perkiraan.

Kutelpon temanku yang mau meminjami mobil. Segera aku berbenah. Cepat.
Tak ada waktu menunggu. Dua potong jarit, setumpuk popok, stagen,
pakaian ganti luar dalam, softtex, minyak but-but, spirulina. Semua
kumasukkan asal-asalan dalam tas kuning yang sudah disiapkannya jauh
hari.

Mobil pinjaman teman segera datang. Dan ia pun kubawa pergi. Sementara
aku mengatakan padanya untuk tenang dan terus bertahan, aku sendiri
menyumpah-serapahi mobil-motor di depanku yang tak segera beranjak
ketika lampu lalu-lintas sudah kuning berkelip-kelip menuju hijau.
Sementara aku katakan padanya sebentar lagi sampai di tempat tujuan,
aku sendiri tegang: penginnya ngebut karena tujuan masih jauh, tapi
tak mungkin.

Ketika akhirnya sampai di tujuan, hujan turun gerimis dan dia sudah
buka 10! Bu Is, bidan kami, segera beraksi. Suntikan, tabung oksigen,
selimut, sarung tangan, botol-botol cairan. Lampu-lampu dinyalakan.
Celemek dipakaikan. Sementara ia, yang telah menyiapkan tasku sejak
pagi, meringis menahan sakit di atas pembaringan. Bu Is menyuntik
seraya memegang-megang perut buncitnya. Asistennya menyiapkan ember.

Aku menggenggam tangannya. Aku memegang keningnya. Peluh bercucuran.

Dan kami semua menunggu detik-detik itu.

Tak berapa lama, ia mengejan. Bu Is memberi aba-aba. Aku menggenggam
lebih erat tangannya. Ia mengambil napas panjang. Ia mengejan lagi.
Suaranya seperti ingin menghentakkan sesuatu yang sangat berat.
Wajahnya pias bertaburan keringat. Aku komat-kamit berdoa sambil
mengusap titik-titik air yang terus mengalir di seluruh wajahnya.

Ia berhenti sejenak lagi, mengambil napas panjang lagi, dan mengejan
lagi! Bu Is memberi aba-aba. Aku pucat. Kudengar kemudian suara
seperti karet yang teregang begitu kuat, melewati batas maksimal
regangannya. Seperti mau putus. Dan kulihat kepala itu. Perlahan, di
sela riuh aba-aba Bu Is, ejanan dan erangan dirinya, dan suaraku
sendiri yang menguatkannya untuk terus mendorong. Terus! Dorong! Kini
kulihat perlahan leher, lalu punggung, tangan, dan akhirnya kaki
keluar cepat diikuti … byoorrr! Ketuban mengalir laksana air bah.
Putih. Bening seperti air beras.

Ia terengah serupa habis mengangkat beban ribuan karung. Terkulai
pucat-pasi. Lelah tiada tara. Kemudian terdengar oek-oek memecah
malam. Hujan gerimis di luar terdengar jelas menusuki atap genting.

“Laki-laki, Mas,” Bu Is memberi kabar seperti angin sejuk mengaliri
padang gersang. Isteriku tersenyum, dan sepertinya semua yang
dialaminya seketika hilang, tergantikan dengan kegembiraan yang tak
tergambarkan. Aku tersenyum padanya. Laki-laki, bisikku padanya
mengulang. Ia menggenggam erat tanganku.

“Aku capek sekali, ” katanya.

Tapi kutahu, sinar matanya menyiratkan suka-cita.

Alhamdulillah! Allahu Akbar! Laki-laki, sama denganku. 3,8 kg. Lahir
per vaginam. 12 Pebruari 2006 jam 21.00 WIB.

Seketika nyawaku saat itu serasa menjadi rangkap!

***

Persalinan merupakan peristiwa besar penuh misteri. Peristiwa
berdarah-darah.

Ia seperti sebuah garis batas yang mengkhawatirkan. Tak jarang
mengerikan. Barang siapa melaluinya seperti halnya melewati batas
antara hidup dan mati. Ia harus dilakoni bukan oleh seorang pria
gagah-perkasa, melainkan seorang wanita dengan segala kelemahannya.
Saking beratnya episode ini, Rasul menimbangnya sebagai sama dengan
jihad di medan peperangan.

Pernahkah Anda mengalami keadaan ini. Isteri sudah berkontraksi penuh.
Bidan lalu memecah ketuban untuk memperlancar persalinan. Tetapi
ketika memeriksa, ia seperti berteriak histeris, “Bu, ini bukan
kepala! Bayinya sungsang! Saya tidak berani. Tunggu, tahan dulu! Saya
akan panggilkan dokter!”

Ia lalu menelepon dokternya setengah berteriak-teriak seakan-akan
seekor anjing galak sudah bersiap menggigit kakinya. Sementara Anda,
seorang laki-laki perkasa yang hanya bisa bengong dan tak tahu harus
berbuat apa melihat isteri Anda tersiksa begitu rupa. Di saat itulah
Anda akan merasakan betapa bayang kematian terasa di depan mata dan
Anda betapapun perkasanya seperti tiada berguna. Betapa kekhawatiran
akan kehilangan seseorang, detik itu, menghantui diri Anda.

Saya pernah mengalaminya saat kelahiran anak saya kedua.

Ini kali keempat saya mendampingi isteri melewati garis batas itu.
Tetapi, rasanya seperti mendampingi proses kelahiran anak yang
pertama, kedua, dan ketiga. Selalu saja timbul pertanyaan itu: akankah
masih bisa menjumpai senyumnya setelah episode ini?

Melihatnya meringis menahan sakit, menggenggam tangannya ketika
mengejan, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia mengeluarkan
buah hati kami, sungguh merupakan episode yang menggetarkan. Dan,
sehabis itu, cinta ini seperti semakin tumbuh. Menjulang. Apakah
memang cinta justru akan menemukan titik puncaknya ketika dihadapkan
pada situasi antara hidup dan mati? Di saat kemungkinan hidup sama
tipisnya dengan kemungkinan tidak menjumpainya lagi?

Karena sebab ini pulalah, saya berupaya untuk selalu mendampinginya
pada peristiwa berdarah-darah itu. Melihatnya bergulat maut, membuat
saya tidak akan pernah tega melukai hatinya. Apalagi memukulnya.
Sungguh, apa yang saya sandang, apa yang saya kerjakan sejak keluar
pagi dan pulang petang untuk mereka yang di rumah, tidaklah sepadan
dengan apa yang harus dialami wanita perkasa itu.

Wahai! Betapa benar sabda Rasul SAW bahwa sebaik-baik suami adalah
yang terbaik akhlaknya kepada isterinya. Dengan membandingkan
pengorbanan pada peristiwa persalinan ini saja, rasanya, Anda, para
suami tidak ada apa-apanya jika dibandingkan wanita yang anak-anak
Anda memanggil padanya ibu.

Karenanya, mendampinginya bersalin adalah sebuah terapi jiwa,
sekaligus episode pembaharuan cinta padanya. Jadi, jika rasanya cinta
saya padanya sedikit terdegradasi, barangkali sudah waktunya bagi saya
mendampinginya lagi untuk bersalin.

Ha ha ha. Sepertinya senda-gurau. Tetapi percayalah, ini serius. Dan
satu hal yang selayaknya diingat adalah bahwa yang dibutuhkannya pada
saat genting itu bukanlah ibu ataupun mertua Anda. Ia hanya
membutuhkan genggaman tangan Anda. Jadi, sudahkah Anda melakukannya?

Wa Allahu a’lam.

***

Bahtiar HS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: