Hati-Hati Dengan Pengawet!!

Penulis: Arief Budi Setyawan

Sudah bukan rahasia lagi bahwa produk-produk makanan yang beredar di pasaran sekarang ini banyak mengandung bahan pengawet. Kenapa? Dan, sebagai konsumen, bagaimana kita harus bersikap dalam memilih makanan? Ironisnya, di dunia industri makanan, teknologi pengawetan menjadi tuntutan tersendiri.

 

Nah, mengapa demikian?

 

Ada beberapa alasan yang menjadi penentunya. Diantaranya, saat ini rantai distribusi bahan pangan segar cukup panjang. Kalau dulu, atau di daerah-daerah yang kehidupannya relative akrab dengan alam, cukup dengan mengambil bahan baku makanan langsung dari alam, ikan dari empang, atau sayuran dari kebun sendiri, kemudian segera dimasak dan dikonsumsi.

 

Sekarang, rasanya orang menjadi terlalu sibuk untuk melakukan semua itu. Untuk makan sehari-hari, kita menginginkan produk yang praktis, dengan membeli bahan pangan mentah, setengah jadi, dan makanan matang dari pasar atau supermarket terdekat. Rantai distribusi ini (dari produsen ke konsumen) cukup panjang. Sedangkan produk mempunyai daya tahan (alamiah) yang terbatas. Tuntutan ini yang mendorong tumbuh dan berkembangnya teknologi pengawetan saat ini.

Prinsip utama mekanisme kerja pengawet makanan adalah dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba tertentu pada bahan pangan, juga dengan cara menghambat proses pertumbuhan spora mikroba. Hasilnya, meski telah disimpan selama jangka waktu tertentu, kondisi bahan pangan tersebut tidak akan berubah jauh dengan ketika baru dimasukkan ke dalam kemasan.

Bagi industri makanan, bahan pangan yang lekas busuk bisa mendatangkan kerugian secara ekonomis yang signifikan. Bagi konsumen, bahan yang sudah mengalami proses pembusukan juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Misalnya, bakteri salmonella yang terdapat pada daging, unggas, dan telur. Kira-kira dalam waktu 6-48 jam setelah dikonsumsi, bakteri salmonella bisa mengakibatkan keracunan yang ditandai oleh gejala mual, demam, kram perut, serta diare yang bisa berlangsung selama 2-7 hari.

PENGAWET…? SEPERTI APA SIH…?

 

Secara garis besar, pengawetan dibagi dua, yaitu menggunakan teknologi (metode/cara) pengawetan dan menggunakan bahan pengawet,

Banyak cara/metode (teknologi yang digunakan untuk mengawetkan, seperti menggunakan suhu pasteurisasi pada susu, dimana dilakukan pemanasan antara 70-80oC yang mampu membunuh mikroorganisme merugikan dan bakteri menguntungkan masih bisa hidup. Atau, dengan suhu dingin, pengemasan vacuum dengan meminimalisir volume O2 dalam kemasan dsb.

Pengawetan dengan menggunakan bahan pengawet, yaitu pengawetan dengan zat pengawet makanan yang dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama GRAS (Generally Recognized as Safe), yang biasanya bersifat alami sehingga menimbulkan efek racun pada tubuh. Kedua, pengawet yang ditentukan pemakaiannya oleh ADI (Acceptable Daily Intake), yang disesuaikan dengan batas penggunaan hariannya untuk kesehatan konsumen. Yang ketiga, zat pengawet yang tidak layak dikonsumsi sama sekali, seperti boraks dan formalin.

Menurut Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz, MS, Deputi III Kepala BPOM Bidang Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Penggunaan bahan pengawet makanan sudah ada ketentuannya. “Badan POM memiliki panduan tentang zat pengawet apa saja yang aman dicampur ke dalam bahan pangan, lengkap dengan jumlah maksimal yang boleh digunakan. Kami juga memiliki daftar sejumlah zat yang dilarang digunakan dalam bahan pangan (lihat Boks: Tidak Boleh Ada dalam Makanan). Jadi, selama produsen menaati peraturan tersebut, keamanan konsumen tetap terjamin,” ujarnya.

Yang perlu kita ketahui bahwa ambang penggunaan bahan pengawet yang diijinkan tersebut adalah batasan dimana konsumen tidak menjadi keracunan dengan tambahan pengawet tersebut. Sudah barang tentu, penambahan pengawet tersebut memiliki resiko bagi kesehatan tubuh. Apalagi jika terakumulasi secara terus menerus dan dalam waktu yang lama. Disamping itu, ambang toleransi tubuh setiap orang terhadap “intake” bahan pengawet bisa berbeda-beda. Terlebih, apabila yang bersangkutan sedang menderita atau berpotensi menderita penyakit tertentu, misalnya diabetes, alergi asma, darah tinggi, dan lain-lain.

PENGAWET YANG PERLU DIWASPADAI

 

Kita (sebagai konsumen) perlu mewaspadai terhadap keberadaan bahan pengawet berikut ini dalam bahan makanan sehari-hari:

– Asam borat (boric acid), atau boraks
– Asam selisilat (salicylic acid) dan garamnya
– Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC)
– Dulsin (Dulcin)
– Kalium Khiorat (potassium chlorate)
– Kloramfenikol (chloramphenicol)
– Minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils)
– Nitrofurazon (nitrofurazone)
– Formalin (formaldehyde)
(Sumber: Presentasi seminar Prof. Dr. Ir. Dedi Fardiaz, MS, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Depkes, 2007)

BIASAKAN MEMBACA LABEL

Dari uraian diatas, mungkin timbul pertanyaan, lantas bagaimana sikap kita dalam memilih makanan? Memilih makanan/produk pangan yang seratus persen bebas pengawet memang nyaris tidak mungkin. Namun, Anda bisa menekan asupan zat berbahaya dengan cara berikut ini:

1. Pilihlah produk pangan yang mencantumkan secara jelas jumlah BTP (bahan tambahan pangan) yang digunakan, serta batas aman konsumsi harian. Amati keberadaan kandungan BTP berbahaya yang bisa merusak kesehatan.

2. Tahu, tempe, serta ikan berformalin biasanya tidak dihinggapi lalat. Jadi, jangan keburu jijik bila lalat ikut nimbrung pada belanjaan Anda.

3. Perhatikan kualitas fisik makanan secara umum. Adanya jamur menandakan proses pengawetan tidak berjalan sempurna atau makanan sudah kadaluarsa.

4. Jangan segan membaui makanan yang hendak disantap. Bau apek atau tengik menandakan makanan sudah rusak atau terkontaminasi mikroorganisme.

5. Anda yang mengidap diabetes, alergi, ataupun asma, hendaknya bersifat ekstra cermat. Kategori ‘aman’ bagi konsumen kebanyakan belum tentu aman bagi Anda.

6. Bahan pangan yang berwarna terlalu mencolok, atau yang warnanyna jauh berbeda dari aslinya, kemungkinan besar telah ditambahi zat perwarna.

7. Biasanya lidah kita cukup jeli membedakan makanan yang masih alami dan yang sudah ditambahi berbagai macam BTP. Makanan yang terlalu banyak dibubuhi BTP biasanya bercita rasa tajam, semisal amat gurih, sehingga membuat lidah ‘tersengat’.

8. Berbeda dari pemanis alami (gula), pemanis buatan biasanya meninggalkan rasa sisa (after taste) pahit pada lidah.

9. Jika membeli makanan impor, pilihlah produk yang telah terdaftar di Badan POM.

10. Pilih makanan yang sudah terdaftar DepKes (lihat no DepKes)

11. Pilih makanan yang bersertifikat Halal (perlu diketahui, tidak selamanya produk yang mencantumkan tulisan halal di kemasan telah teruji dan terdaftar di BPPOM MUI). Informasi produk halal silakan klik http://www.halalguide.info/

12. Warna merah pada daging olahan. Jika berlebihan, bahan pengawet ini bisa menyebabkan keracunan, kesulitan bernapas, pusing, anemia, dan radang ginjal.

13. Selain itu, ada pula kalsium propionate untuk mencegah tumbuhnya jamur di roti atau tepung. Jika pemakaiannya tidak tepat, efek samping yang timbbul adalah migraine, kelelahan, dan insomnia.

KEMBALI KE ALAM

Menurut dr. Marius Widjajarta, SE. (Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia), selain efek samping negatif dari sejumlah bahan pengawet, hal yang juga memberatkan posisi konsumen saat ini adalah masih banyaknya produsen makanan yang kurang jujur membuka ‘isi dapur’ mereka. “Tak sedikit terjadi, ada produk yang menggunakan 3 jenis pengawet sekaligus, namun hanya mencantumkan 2 atau satu saja pada labelnya. Itu baru pengawet, belum lagi bahan tambahan pangan lain, seperti pemanis, pewarna, dan sebagainya.
Kembali ke alam dan mengkonsumsi makanan yang alami adalah alternatif paling aman untuk membentengi diri dari resiko berbagai bahan tambahan pangan, termasuk bahan pengawet, yaitu memilih bahan pangan yang masih asli ketimbang yang sudah dikemas sedemikian rupa.

Misalnya, membatasi pembelian produk makanan olahan yang siap makan (hanya tinggal dipanaskan sebelum disantap), serta rela kembali berpanas-panas di dapur untuk mengolah sendiri menu harian keluarga. Selain itu, ketimbang menyantap sambal siap pakai ataupun jus buah dalam kemasan, tak ada salahnya Anda turun tangan menggiling cabai, bawang, dan tomat sendiri, atau mengolah sendiri buah-buahan segar untuk dijadikan jus.

Jika terpaksa membeli bahan pangan yang diawetkan, Anda pun dapat melakukan tindakan preventif dengan menyeleksi produk-produk yang Anda beli. Tidak ada salahnya, sedikit repot memasak sendiri, syukur-syukur mengambil langsung bahan bakunya langsung dari alam. Bukankah kesehatan itu sangat berharga, teman?

Advertisements

2 Responses to “Hati-Hati Dengan Pengawet!!”

  1. James Riady Says:

    Sekarang roti menjadi hot issue di Amerika ketika org Amerika-pun sekarang ini menjerit: Too Much Bread Improver, Too much Bread softener, Too Much Preservative.

    Pengujian roti di Malaysia menunjukkan bahwa 92% dari roti yang ber-edar (termasuk roti ternama atau roti yang dihidangkan di restoran siap saji) mengandung pengawet hingga 5 kali dari yang dibenarkan oleh undang-undang.
    Diperkira-kan hal yang sama juga terjadi pada industri makanan di Indonesia-pun.

    Di Indonesia makanan basah seperti mie basah, bakso basah, tahu basah, roti, dll, mengandung terlalu banyak pengawet. Dan karena mau murah mereka memakai pengawet yang bukan food grade. Padahal kebanyakan pengawet dihubungkan dengan penyakit ADD hiperaktive. Dan Bread Improver yang terlalu banyak untuk supaya roti dapat mengembang besar sekali bisa menimbulkan kanker (Source Wikipedia: Bread Improver)

    Kemarin ini di sekolah untuk anak kurang mampu, aku lihat anak cewek umur 5 tahun cakep, tapi kalau diperhatikan lagi anak kecil ini terkena penyakit ADD hiperactive(Jadi kerja-nya goyang melulu). Kasihan sekali, ya !!

    Sekarang juga sudah ada pengganti roti yang lebih sehat, yaitu roti beras kering (rice cake).
    Kalau yang buatan Australi nama-nya Sun Rice, kalau yang buatan lokal nama-nya N_asiKriuk Debbie (Tersedia di All Fresh atau Mini market Nano Pluit atau Supermarket Rezeki). Harga-nya juga tidak mahal.
    Rice cake /roti beras kering ini:
    Karena kering, tidak perlu pengawet.
    Karena terbuat dari beras, tidak perlu pengembang yang bisa menyebabkan kanker.
    Karena terbuat dari beras, bukan gandum, rendah kalori-nya, bisa tetap langsing.

    Karena banyak-nya obesitas (kegemukan), org Amerika sekarang juga berpindah dari gandum ke beras (cereal mereka yg pakai beras seperti cocoa puff atau rice krispy).

    Trm kasih.

  2. James Riady Says:

    Makan Roti Koq Tambah O ‘On

    Sekilas info untuk teman-teman, saya ingin berbagi informasi mengenai beberapa hal yang mungkin berguna bagi kita semua.

    Kemarin ini saya tertawa terkekeh-kekeh karena ada orang berkata: Anak saya, saya makanin roti tiap hari, koq nggak tambah pintar, tapi tambah O’On (Bloon).

    Inilah perkataan Sue Dengate mengenai pemakaian pengawet roti supaya roti bisa awet lebih dari 2 hari yg saya quote dari artikel “Bread for success”:

    Author and food intolerance counsellor Sue Dengate has researched calcium propionate, commonly known as preservative 282 in bread.
    “I think parents should know that there is a preservative in what we regard as a healthy food that is eaten several times a day by most children that can affect behaviours and learning disabilities,” Ms Dengate said.
    Preservative 282 is a mould inhibitor that is added to bread.
    “Most people think that additives are tested before approval,” Ms Dengate said. “Well I’ve got news for you, they are not tested for effects in children’s learning and behaviour.”
    The latest research suggests preservative 282 may cause permanent changes to the brain in rats, along with long-lasting defects in learning abilities.
    “All we can say is if it’s causing permanent damage in brains of rats what’s it doing to the brains of our children?” Ms Dengate said.

    Hasil dari penelitian di Malaysia terdapat sekitar 92% roti yang beredar (termasuk roti merek terkenal) menggunakan pengawet lebih banyak sampai 5x dari jumlah yang diijinkan oleh undang-undang. Bagaimana dengan roti yang ada di Indonesia? Informasi yang saya peroleh juga sangat memprihatinkan. (mungkin teman-teman ada yang bisa sharing).

    Sebagai ganti roti, ada produk yaitu rice cake (roti beras panggang) seperti “N_asiKriuk Debbie, atau Sun Rice dari Australia untuk menyelingi makan roti. Rice cake ini kering dan tak ber-pengawet, sehingga kadar pengawet dalam tubuh & otak tidak terlalu menumpuk.

    Kelebihan dari roti beras panggang sebagai pengganti roti yang lebih sehat antara lain:
    – Karena kering, tidak perlu pengawet.
    – Karena dari beras, rendah kalori-nya.
    – Proses pembuatannya tidak menggunakan pengembang (bread improver) dan pemutih.
    Dengan banyak-nya masalah obesitas, Amerika pun sekarang ber-alih ke produk2 yang terbuat dari beras dan ber-bentuk kering, spt rice crispy atau rice cereal.

    Terima kasih.

    Roti Beras Panggang N_asiKriuk Debbie atau Sun Rice bisa anda dapatkan di supermarket Rezeki, Nano-Pluit dan All Fresh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: