Pengaruh Nama Pada Anak

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang
berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian,
kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana
cara orang menilai diri si pemilik nama.

Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama
anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak
`pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya
dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju
karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki
nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan
beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di
elakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang
diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan
karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana
juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya
hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.

Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati
mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak
`keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang
menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama
untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang
dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian
alasannya.

Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan
mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak
kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran,
hingga di hari akhir nanti.

Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si
pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha
memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki
arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak.
Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam
Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.

Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:

1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar
antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah
hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang
anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).

Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap
anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya
pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur
kepalanya pada hari itu.”

2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama
yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah
saw. adalah:

* Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk,
“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil
dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian.
Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
* Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
* Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.

Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:

* Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan
atau cemoohan orang.
* Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis
atau negatif.
* Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad,
Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.

Pengaruh nama pada anak

Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah
dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka
memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati
diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang
mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.

Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman
yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki,
perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.

Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar
nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab
ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak
dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan
ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini
kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan.
Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik
oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.

Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang
menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya
Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang
memiliki huruf `R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang
cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang
artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman)
dilafalkan menjadi Auda.

Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan
tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa
masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering
salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang
menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada
seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert
Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama
mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan,
bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki
nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau
diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah
mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?

Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih
nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya.
Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut
berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh
orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar,
ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai
orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai
anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan
dengan orang yang tidak baik.

Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa
dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki
nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu
dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu
pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita
dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: